Berkompromi dengan Marah

08.07

Bu, hal apa saja sih yang bisa memicu kemarahan? Kebanyakan ibu berpendapat bahwa anak-anak yang berulah, pekerjaan yang tidak ada habisnya serta kelelahan, adalah pemicu kemarahan yang paling dominan. Sebelum membahasnya lebih lanjut, yuk cari tahu, apa sih marah itu?

Berikut ini adalah beberapa definisi marah :

·    Charles Rycroft (1979)
    Mengartikan marah dengan suatu reaksi emosional kuat yang  didatangkan oleh ancaman, campur tangan, serangan kata-kata,  atau frustasi dan dicirikan dengan reaksi gawat dari sistem    saraf yang bebas dengan balasan-balasan serangan.

·    Stuart & Sundeen (1987)
   Mendefinisikan marah sebagai perasaan jengkel yang timbul  akibat respon terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai    ancaman.

·    Al-Jurjani (2001)
    Mengatakan, bahwa marah merupakan perbuatan yang terjadi pada waktu mendidihnya darah di dalam hati, untuk   memperoleh apa yang terdapat di dalam dada.

Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan, bahwa marah merupakan reaksi emosional yang terjadi pada waktu mendidihnya darah di dalam hati, sebagai akibat dari perasaan jengkel, frustasi atau rasa cemas yang dirasakan sebagai ancaman.

Dalam keadaan marah, terkadang ucapan dan perbuatan berubah menjadi kasar. Karena dalam kondisi tersebut, emosilah yang mengambil peran untuk memenuhi kepuasannya. Lalu datanglah rasa penyesalan. Terlebih jika perlakuan kasar tadi tertuju kepada orang yang disayangi terutama kepada anak.

Pernahkah Ibu memerhatikan, ada orang tua yang tega memukul buah hatinya karena hal sepele? Padahal dalam keseharian terlihat sangat menyayangi anaknya. Jika ditelusuri lebih jauh, biasanya, merupakan akibat dari terakumulasinya perasaan marah yang tidak terpenuhi dengan baik.

Berikut ini adalah beberapa solusi untuk berkompromi dengan 
marah, yaitu :

1.  Diam Selama 10 Detik
Ketika rasa marah timbul yang disebabkan tingkah anak-anak, diamlah selama sepuluh detik sambil mengatur napas dan ber-Istighfar dalam hati, agar bisa berpikir dan bertindak lebih arif dalam menghadapi mereka. Sepuluh detik pertama merupakan puncak emosi, jadi kalahkan dengan tidak bereaksi atau diam.

2.  Buat Jadwal Harian
    Tuliskan dengan detail apa yang menjadi rencana Ibu.  Buatlah susunan berdasarkan skala prioritas. Dengan terbiasa  membuat jadwal kegiatan, Ibu akan memiliki lebih banyak  waktu karena biasanya akan lebih produktif sehingga lebih cepat  dalam menyelesaikannya.

3.  Back to Basic
Apapun profesi Ibu, baik sebagai wanita karir, pebisnis maupun hanya sebagai ibu rumah tangga, ada kalanya terjadi ‘benturan’ kepentingan antara pekerjaan dan anak. Dalam kondisi ini, mengingat kembali apa tugas utama seorang ibu, akan sangat membantu dalam mengambil keputusan, mana hal yang perlu di prioritaskan.

Nah, Bu, marah itu bisa dikompromikan. Coba yuk!


========
Biodata Penulis

Sani Hasanah, lahir di Jakarta pada tanggal 29 Maret 1986. Alamat saat ini, Jl H Jairi no.17 RT005/02, Rawabuaya, Cengkareng, Jakarta. Ibu dari 2 orang putra yang aktif sebagai konsultan nulis dan bisnis di Indscript Creative, sekaligus juga owner bantal_mpuk serta Ibraqra baby needs & toys.

You Might Also Like

0 komentar

Total Tayangan Halaman