Televisi Di Rumah, Yay or Nay?

09.15

“Jangan sering-sering nonton TV nanti malas belajar dan membuat malas beraktivitas” Seringkali kita mendengar himbauan untuk menghindarkan anak-anak dari kecanduan menonton tayangan televisi. Tayangan-tayangan tidak mendidik seperti konten semi pornografi dan kekerasan yang terselip dalm film dan sinetron dianggap sebagai salah satu penyebab rusaknya moral generasi muda.
Di sisi lain televisi adalah sarana memadai untuk mendapatkan informasi atau pengetahuan selain sebagai sarana hiburan murah meriah. Tanpa keluar biaya transportasi, cetak media atau kuota internet berbagai informasi dan kabar terbaru dari berbagai belahan dunia bisa dinikmati dengan hanya memindahkan channel dari satu ke channel lainnya. Aneka hiburan musik dan kesenian tradisional hingga musik klasik bisa disaksikan melalui siaran televisi. Jadi televisi di rumah, yay or nay?

Ahli parenting sepakat bahwa menonton televisi adalah aktivitas yang perlu dibatasi terutama bagi anak-anak usia dini. Televisi menayangkan gambar-gambar statis yang diulang. Terlalu sering menonton televisi diyakini bisa mengurangi kemampuan otak untuk berpikir, sehingga anak-anak dalam masa perkembangan disarankan tidak menonton televisi terlalu lama sebab bisa menjadi penyebab delay speech atau keterlambatan berbicara. Anak-anak usia sekolah pun tak luput dari bahaya tayangan televisi jika telah memasuki ranah kecanduan. Namun tidak dapat dimungkiri bahwa televisi juga bisa membawa dampak positif.

Jadi boleh nggak, sih, membiarkan anak-anak menonton televisi. Hal-hal berikut ini patut menjadi bahan pertimbangan atas kehadiran tayangan televisi di rumah:

1.  Batasi Waktu Menonton
Jangan biarkan anak-anak usia satu-tiga tahun terlalu sering menonton televisi. Usia dini ini seharusnya adalah masa-masa anak diajak untuk berinteraksi dan mengoptimalkan kemampuan kognitif dan motoriknya.

2.  Berikan Syarat dan Ketentuan
Anak-anak usia sekolah perlu diajarkan untuk menjaga komitmen. Berikan syarat anak boleh menonton televisi pada jam tertentu setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, belajar dan mengaji. Periksa hasil pekerjaan mereka, baru perbolehkan anak-anak menonton televisi.

3.  Pilih Tayangan yang Aman Ditonton Anak-anak dan Dampingi Mereka Tatkala Menonton 
Ada baiknya memilihkan tayangan yang aman ditonton anak-anak misalnya serial kepahlawanan, tayangan tentang dunia flora dan fauna atau film kartun dengan masa tayang pendek. Pastikan konten tayangan tidak mengandung unsur kekerasan atau tayangan khusus dewasa. Selain itu orang tua juga perlu mendampingi anak ketika menonton televisi. Hal ini dapat membantu meminimalisir tayangan tidak bermutu. Quality time keluarga pun tetap terjalin dalam kebersamaan.

=========
Biodata Penulis

Dwi Aprilytanti Handayani, Social media enthuasisme, buzzer, blogger, content writer. Ibu dari dua anak, senang  menulis dan     membaca. Blog pribadinya www.braveandbehave.blogspot.co.id 
Kadang menulis juga di Indoblognet dan Kompasiana. Bisa dihubungi di dwi.aprily@yahoo.co.id atau dwi.aprily@gmail.com

You Might Also Like

0 komentar

Total Tayangan Halaman