#MemesonaItu Terbuka Menerima Kritikan

20.46

My Vitalis Breeze :)
Pernah bekerja sebagai staf executive lounge di Bandara Hang Nadim Batam merupakan pengalaman yang sangat berharga untukku. Para staf executive lounge dituntut untuk memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan para penumpang, ramah, serta peka terhadap apa yang dibutuhkan penumpang tatkala singgah di lounge. Tak jarang aku pun diminta untuk membelikan sesuatu oleh pengunjung lounge, misalnya, cake pisang khas Batam, bingka bakar, atau oleh-oleh lainnya. Hmm … penumpang kebanyakan adalah orang sibuk yang malas repot membawa buah tangan dari luar, jadi mereka memilih beli di bandara saja.

Siang itu cuaca panas menyengat. Jadwalku masuk siang. Buru-buru kupacu motor dengan kecepatan tinggi. Bersyukur bisa sampai tepat waktu. Aku langsung mengecek makanan serta kebersihan lounge. Ketika tengah sibuk mengganti menu makanan, tiba-tiba supervisor datang bersama dua orang yang asing bagiku. Sempat deg-degan juga, sih. Aku masuk siang bersama seorang teman. Ia pun sama was-wasnya denganku. Ada apa, ya? Kenapa supervisor mendadak datang? Itu pertanyaan yang melintas di benakku. Supervisor sontak memanggilku dan temanku. Ia meminta kami bergabung, lalu memperkenalkan dua orang ibu yang duduk di sebelahnya. Oh, ternyata kedua ibu itu adalah staf salah satu maskapai penerbangan yang bekerja sama juga dengan kami. Lega karena yang dibahas hanya masalah ringan terkait beberapa komplain dari pelanggan. Hmm … begitulah faktanya, kita tidak bisa menyenangkan hati semua orang meski sudah memberikan pelayanan terbaik. Ada saja cacatnya, walau sebesar kacang hijau hehe …. Usai memberi pengarahan kepada kami, supervisor pun meminta kami kembali bekerja.

Sekitar sepuluh menit kemudian, mereka menyudahi meeting siang itu. Aku dan temanku telah bersiap kembali menyambut penumpang. Supervisor masih berdiri di sisi kananku, melepas kepergian tamunya. Selanjutnya, ia meminta bicara empat mata denganku. Aduh, ada masalah apalagi? Jantungku seperti mau copot. Kami pun pergi keluar lounge sebentar. Temanku yang berjaga sendirian.

Supervisor yang cukup tampan itu menatapku sembari senyum-senyum. Sepertinya tahu aku agak cemas. Kemudian dia berkata bahwa ada komplain dari kedua staf maskapai tadi terkait diriku. Tepatnya bau badanku. Olala … ternyata ini alasan supervisor ingin bicara berdua. Rupanya ia tak ingin aku malu. Si ibu agak terganggu dengan bau tubuhku yang kurang sedap.

“Kamu udah cantik, masa bau badan? Sok, beli parfum hehe ….” ucapnya dengan logat daerah yang kental.

Aku mengangguk seraya tersipu. Berarti ini bau sudah kelewatan sampai mengusik ketenangan hidung para ibu staf maskapai.

Singkat cerita, sepulang kerja aku mampir ke sebuah mini market dekat rumah guna membeli parfum. Akhirnya pilihanku jatuh kepada vitalis body scent breeze. Selain karena aku suka warna biru, breeze mempunyai wangi yang segar. Perpaduan wangi bunga-bunga cyclamen, lily of the valley, peach, cedarwood, dan amber sungguh menyejukkan, menciptakan rasa damai dan rileks.

Keesokan harinya aku lebih bersemangat dan percaya diri sebab ada vitalis body scent breeze yang melengkapi penampilan hari ini. Kulihat kembali diriku dalam cermin, kalau-kalau ada yang kurang. Sip! Semuanya sempurna! Dan inilah arti memesona bagiku. Terbuka menerima segala kritikan agar penampilan menjadi lebih baik dan hasil kerja pun kian optimal.




#MemesonaItu

You Might Also Like

0 komentar

Total Tayangan Halaman