Gurihnya Menjadi Penulis Cerita Anak!

05.30

Gambar: pixabay

Orang dewasa menulis cerita anak? Memang boleh, ya? Eits … siapa yang melarang, Mak. Cerita anak merupakan cerita yang diracik atau diolah berdasarkan sudut pandang anak-anak. Jadi tidak ada batasan usia bagi para penulis cerita anak. Siapa pun boleh menulis cerita jenis ini, asal kisah yang dibuat menghibur dan memberikan pengajaran atau pesan moral bagi pembaca cilik.



1.   Bagaimana Saya Berkenalan dengan Cerita Anak?
Awal saya mengenal dunia penulisan, tidak pernah terlintas dalam pikiran bahwa genre yang bakal saya tekuni adalah cerpen anak. Lalu kenapa akhirnya memilih jenis tulisan ini? Dulu saya berjuang sekuat tenaga menyelami tulisan bertipe teenlit atau cerpen remaja. Banyak referensi cerita ala anak SMA, novel unyu, majalah yang bertengger di rak buku. Berkali-kali pula saya mengikuti bermacam kompetisi menulis cerpen remaja. Sayang, tak ada satu pun cerita yang layak masuk, walau sebagai juara harapan. Hiks … sedih, deh. Tidak sampai di situ saja. Saya pun berusaha untuk menembus beberapa majalah remaja. Mengirimkan puluhan cerpen ke banyak redaksi, namun hasilnya sama. Telur mata sapi hehehe …. Sedih? Tripel, Mak!

Saat itu saya merasa karir menulis saya bakal tamat, sebab tidak ada karya yang dimuat. Ditambah proyek antologi cerpen remaja yang gagal juga ditembus, seolah meyakinkan saya bahwa jalan menjadi penulis memang harus dicukupkan saja. Saya menyerah. Menganggap diri ini tidak berbakat menulis. Tutup buku dan meletakkan pena berbulan-bulan.

Sampai suatu hari saya membaca status Facebook seorang teman secara tak sengaja. Status tersebut berisi kabar gembira pemuatan cerpen-cerpen anak yang dia tulis. Saya pun kepo dan mengintip timeline Facebooknya. Sejak saat itu, beberapa status terkait cerita anak pun kerap bermunculan di beranda Facebook saya. Isinya kisah bahagia hingga foto karya teman-teman yang telah malang melintang di dunia penulisan cerita anak. Banyak yang sudah menelurkan buku, cerpen anak bertebaran di sejumlah media, bahkan ada yang menyabet rekor MURI sebagai penulis cerita anak paling produktif. Prestasi mereka membuat hati saya deg-degan. Pengin rasanya seperti itu. Bisa punya buku sendiri, cerita yang nangkring di beragam media cetak. Tetapi hati masih ragu untuk mulai menulis. Terbayang perjuangan berliku di genre teenlit yang tak berbuah manis. Ah, perlu beberapa waktu untuk mengumpulkan keberanian menulis kembali. Dan … tara! Semangat saya pun akhirnya pulih lagi!

Sebelum memulai menulis cerpen anak, saya mencari referensi bacaan sebanyak mungkin. Browsing sana-sini untuk mengetahui seperti apa, sih, cerpen anak itu. Oh, ternyata ceritanya pendek dan sederhana saja. Saya pasti bisa! Begitu keyakinan yang terpatri dalam hati. Beberapa bulan latihan berbekal bacaan karya teman-teman, buku-buku anak, ditambah majalah, lama-lama jadi ketagihan menulis cerpen ini. Beragam ide mengusik benak saya setiap hari. Alhasil, setelah mulai meluncurkan peluru ke majalah dan koran-koran yang mempunyai rubrik cerita anak, alhamdulillah … pintu itu akhirnya terbuka. Ada karya yang nyangkut, Mak. Girang bukan kepalang.

Kemudian saya rajin ikut kompetisi menulis kisah anak-anak. 
Bersyukur bisa masuk dalam deretan nama naskah terpilih. 
Menulis cerita anak benar-benar membangkitkan semangat dan rasa percaya diri saya. Dari sini, saya mantap menapaki kembali jalan menjadi seorang penulis. Menulis kisah-kisah untuk pembaca cilik.

2.  Apa Asyiknya Menulis Cerita Anak?
Berikut beberapa alasan mengapa Emak harus mencoba merajut kenangan dalam cerita anak.
      -  Emak bisa bernostalgia dan mengenang masa lalu, 
      ketika masih kanak-kanak. Menggali ide dari 
      pengalaman waktu kecil untuk diracik menjadi sebuah cerita 
      menarik;
      - Pengalaman-pengalaman lucu, sedih, unik sewaktu 
      dewasa pun merupakan sumber ide. Tinggal bagaimana 
      Emak mengolah jadi bacaan yang bergizi 
      untuk pembaca cilik;
      - Tidak membutuhkan waktu lama dalam penggarapan, 
      sebab ceritanya pendek, hanya 1-3 halaman;
      - Bebas menulis apa saja, bahkan hal-hal tidak masuk akal bagi 
      orang dewasa sekalipun. Misalnya, kurcaci jamur, negeri peri, 
      hewan serta tumbuhan yang dapat bicara, dan sejenisnya;
      - Tidak perlu puitis atau nyastra. Pastikan gunakan 
      bahasa sederhana, mudah dimengerti oleh anak-anak.

3. Tips Mendapatkan Ide Istimewa
Sebenarnya ide selalu berseliweran di depan mata. Tinggal kita yang jeli dan lebih sigap menangkapnya, Mak. Jangan biarkan ide lenyap. Selalu siapkan catatan kecil ketika Emak bepergian ke mana saja. Tulis semua ide yang muncul sebagai modal membuat cerpen anak.

Nostalgia
Ide bisa diperoleh dari mengingat kembali pengalaman menarik di masa lampau. Yuk, ingat lagi apa saja yang pernah Emak alami dahulu! Kisah yang berkesan dan tak terlupakan. Lalu, olah jadi cerpen ciamik, deh.
- Amati
Lihat ada apa saja di lingkungan sekitar kita! Perhatikan perilaku orang-orang, anak-anak, para penjual yang mungkin lewat depan rumah, benda-benda berbentuk aneh, semua bisa menjadi cikal bakal membludaknya ide di benak Emak.
- Membaca Karya Orang Lain
Perbanyak referensi, rajin melahap karya orang lain akan membuat Emak kebanjiran ide cerita. Dari satu cerpen anak yang Emak baca, sangat mungkin memperoleh beragam gagasan yang siap digarap menjadi cerpen menarik.
- Peka
Penulis fiksi atau non fiksi wajib peka melihat keadaan. Dengan sensitivitas yang terasah, Emak tidak akan melewatkan ide sesederhana apapun.
- Berkumpul dengan Teman Sehobi
Berbincang atau sekadar berkumpul dengan teman-teman yang memiliki hobi serupa, merupakan pemancing ide yang manjur. Tak hanya itu, berinteraksi dengan teman sesama penulis pun akan memicu semangat menulis Emak terus berkobar.

4. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Tatkala Menulis Kisah Anak
     Saat menggarap kisah untuk para pembaca cilik, Emak harus  memperhatikan hal-hal berikut ini.

     - Buatlah cerita yang mengalir, tidak terkesan menggurui. Bikin  mereka fun saat membaca kisah tersebut;
     - Jangan sembarang memberi judul. Pastikan isi cerita tidak bocor  sewaktu pembaca melihat judul karya kita;
     - Menyusun kerangka karangan atau garis besar cerita sebelum  pembuatan cerpen anak, agar kisah tetap berada di jalur dan tidak  meluap ke mana-mana;
     - Bikin ending tidak terduga atau dikenal dengan twist. Caranya?  Tentukan lebih dahulu akhir dari cerpen. Sebagai contoh, kisah  buku kesayangan yang hilang misterius. Buat seolah buku tersebut  tidak akan ditemukan lagi. Lalu kenapa bisa ketemu, padahal  tampaknya sudah hilang selamanya? Nah, menjawab pertanyaan di  benak pembaca, Emak wajib menyisipkan alasan yang masuk akal,  ya. Jangan sampai niatnya membuat ending luar biasa, malah  terkesan maksa hehe …. Jangan lupa juga petunjuk-petunjuk  tersamar di dalam cerita yang mengisyaratkan buku bakal kembali,  tetapi adanya petunjuk ini jangan sampai disadari oleh pembaca  cilik.
    - Sesuaikan nama tokoh dengan latar belakang, waktu, lokasi, atau sifat tokoh dalam cerita. Contohnya, si tokoh utama adalah sosok yang menyukai bunga. Emak bisa saja memberinya nama Ibu Puspa atau Mama Sekar. Bila kisah berlokasi di Yogyakarta, dapat menggunakan nama seperti Puspita serta Budi.
     - Mau menulis cerita anak yang mana, nih? Menurut buku Menulis Kreatif Cerita Anak karya Heru Kurniawan, ada beberapa jenis cerita anak. Di antaranya cerita fantasi, cerita rakyat, cerita formula (cerita detektif atau misteri), dan cerita realis. Tinggal pilih yang paling nyaman Emak tulis.

Serunya membingkai kenangan dalam kisah anak! Pengalaman Emak akan senantiasa hidup dalam cerita. Menghibur sekaligus memberi pengajaran kepada para pembaca. Ayo siapkan pena dan imajinasi kita, ciptakan beragam cerita hebat, Mak!

Penulis: Dian Novandra



You Might Also Like

0 komentar

Total Tayangan Halaman