Sendy Hadiat, Penderita Bipolar Disorder yang Sukses Menulis Satu Buku dalam Dua Hari

07.51

Acara launching buku Sendy Hadiat (03/12/2017)
Membuat satu buku dalam waktu dua hari rasanya mustahil. Namun, Sendy Hadiat berhasil membuktikan bahwa hal tersebut dapat dilakukan. Melalui kelas private writing coaching dari Indscript Creative, wanita bernama asli Sendy Winduvitri ini mampu menyelesaikan sebuah buku autobiografi berjudul “Menemukan-Mu dan Menemukannya” setebal 160 halaman.

Dalam wawancara di acara launcing bukunya yang dipandu oleh Natasya Wisaksono pada 03 Desember 2017 bertempat di Kantor Indscript Creative, Sendy mengatakan bahwa sejak tahun 2013 dirinya memang ingin membuat buku dan sempat beberapa kali menggunakan jasa ghost writer, akan tetapi proses pembuatan buku tersebut selalu kandas di tengah jalan.



Sampai akhirnya Sendy mengikuti kelas reparasi bisnis di Indscript Creative. Suatu hari ia sempat berdialog dengan Indari Mastuti, Owner Indscript, terkait keinginannya mencari penulis yang dapat membantu membuat buku tentang kehidupannya sebagai penderita bipolar disorder. Sang owner pun menyarankan Sendy untuk menulis bukunya sendiri melalui kelas private writing coaching atau PWC. Di kelas eksklusif ini, selain mentor, peserta juga akan didampingi oleh editor serta desainer profesional.

10 November 2017, Sendy yang menetap di Bali memantapkan niat berangkat ke Bandung untuk mengikuti kelas PWC. Tatkala ditanya bagaimana Sendy dapat menyelesaikan buku autobiografinya hanya dalam waktu dua hari, ia menjelaskan bahwa sebelum menulis memang sudah terbayang akan cerita yang hendak dituangkan. Dia pun berusaha menguatkan diri untuk mengingat kembali masa lalu dan menikmati proses penulisan.

“Menulis buku ini seperti terapi berjalan,” kata Sendy di sela perbincangan.


Buku karya Sendy Hadiat yang menggetarkan hati

Buku “Menemukan-Mu dan Menemukannya” menceritakan kisah 
perjalanan hidup Sendy Hediat sebagai pengidap bipolar disorder. 
Bagaimana ia mengalami bullying, menghadapi caci maki, gunjingan, pelecehan seksual, hingga akhirnya Sendy bisa mengambil hikmah dari bipolar yang dialaminya. Bipolar disorder merupakan gangguan perasaan di mana penderitanya mengalami perubahan mood yang drastis. Semula senang, beberapa detik kemudian bisa merasa sedih. Setelah sukses merampungkan bukunya, Sendy mengaku lega dan bebas. Dia tak lagi merasa takut kehilangan atau ditinggalkan. Pada acara tersebut, suami Sendy pun turut hadir dan sharing tentang lika-liku kehidupannya bersama Sendy dan bipolar disorder. 

You Might Also Like

0 komentar

Total Tayangan Halaman