Kisah Sepatu Merah

07.47




Note: jangan baca sampai akhir, atau kamu akan teler ilmu wkwkwkw .... #gurausaja

Di India, hiduplah seorang lelaki tua yang bekerja sebagai pembuat sepatu. Dia tinggal sebatang kara. Seiring berjalannya waktu, pembelinya pun ikut berkurang. Tidak ada lagi orang yang memesan sepatu.

“Oh, Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku sangat lapar, tetapi tidak punya uang untuk membeli makanan,” gumam tukang sepatu.

Lama kelamaan, tubuhnya semakin lemah. Di tengah kondisinya yang buruk, tiba-tiba tukang sepatu ingat pada selembar kulit yang ia miliki. Kulit tersebut sangat indah, sehingga tukang sepatu memilih untuk menyimpannya. Karena tak punya pilihan lain, dia pun memutuskan untuk membuat sepatu dari kulit tersebut.

“Semoga ada yang mau membelinya dengan harga mahal,” harapan tukang sepatu.

Ia mulai membuat sepatu dengan hati-hati. Setelah selesai, tukang sepatu memajang alas kaki indah tersebut di etalase tokonya. Berhari-hari tukang sepatu menunggu, namun sepatunya belum juga terjual. Orang-orang bilang sepatu tersebut terlalu mahal.

Hujan dan angin kencang tak kunjung reda hingga malam hari. Tukang sepatu duduk di dekat perapian dan menghangatkan tubuhnya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan. Ketika dibuka, tampak seorang lelaki dengan baju lusuh dan alas kaki yang belubang berdiri di hadapannya.

“Tuan, bolehkah aku meminta makanan dan uang? Aku sangat lapar,” lelaki miskin itu memohon.

“Aku tidak memiliki apa-apa, tapi masuklah! Mari, hangatkan badanmu. Kau boleh menginap malam ini,” balas tukang sepatu.

“Tuan, kenapa kau tidak punya uang? Sepatu buatanmu indah, tentu banyak yang ingin membelinya,” tanya lelaki miskin.

“Pelangganku sudah berkurang. Bahkan beberapa minggu tidak ada yang datang sama sekali,” jawab tukang sepatu sedih.

“Sepatu ini bagus sekali! Andai aku memiliki uang, pasti kubeli,” ucap lelaki miskin sambil menunjuk sepatu merah di etalase toko.

“Ambil saja jika kau mau. Sebagai ganti alas kakimu yang berlubang itu,” kata tukang sepatu seraya berjalan menuju kamar tidur.

Esok harinya tukang sepatu tak menemukan lelaki miskin yang menginap di rumahnya, begitu pula sepatu merah dalam etalase toko. Lama ia memikirkan cara mencari uang. Sampai tak terasa hari beranjak siang. Tiba-tiba tukang sepatu mendengar suara ketukan pintu.

Betapa terkejutnya tukang sepatu mengetahui yang datang adalah perdana menteri kerajaan. Di belakangnya banyak pelayan membawa aneka makanan lezat.

“Makanan ini untuk Anda, Tuan,” ucap perdana menteri sambil menyunggingkan senyum.

“Maaf, Tuan, mungkin Anda salah orang,” tukang sepatu tampak heran.

“Tidak. Silakan menikmati makanannya, setelah itu saya akan menceritakan semuanya,” ujar perdana menteri.

Tukang sepatu makan dengan lahap. Ia merasa bersyukur atas kehadiran rombongan dari istana. Usai menikmati santapan, perdana menteri melanjutkan ceritanya.

“Tadi malam, Anda telah memberikan sepatu merah kepada baginda raja. Kami diperintahkan untuk membawa semua makanan ini sebagai balasan,” terang perdana menteri.

“Aku memberikan sepatu itu kepada pengemis, bukan baginda raja,” sergah tukang sepatu seraya menggaruk kepalanya.

“Sebenarnya pengemis itu adalah baginda raja yang menyamar. Beliau ingin tahu kehidupan rakyatnya. Anda pasti tidak menyangka, bukan? Anda memberikan satu-satunya harta yang Anda miliki yaitu sepatu merah. Raja meminta Anda untuk tinggal di istana.”

Betapa bahagia tukang sepatu mendengar penjelasan perdana menteri. Maka ia pun melangkah riang, ikut ke istana bersama rombongan.

=======

Tips Simpel Menulis Kembali Dongeng atau Cerita Anak

Hai, Pabelz!

Ketemu lagi sama Mak Belalang ^^ Sudah membaca dongeng di atas, kan? Itu adalah dongeng dari India yang saya rewrite. Apakah kamu sering membacakan dongeng maupun cerita anak untuk buah hati? Ya, mendongeng merupakan aktivitas menyenangkan yang sangat bermanfaat bagi perkembangan sosial, emosional, kognitif, di samping juga mampu mempererat bonding dengan si kecil. 

Selain membacakan dongeng, kamu mungkin juga ingin menuliskan kembali dongeng yang pernah didengar maupun dibaca, ya. Terlebih kalau kamu adalah penulis cerita anak atau diajak untuk mengikuti proyek nulis dongeng yang sudah populer. So pasti ada tekniknya, Pabelz. Ini dia langkah-langkah sederhana dalam menulis kembali dongeng maupun cerita anak populer!

1. Perhatikan Dengan Saksama
Dengarkan baik-baik dongengnya. Cermati dan hayati jalan ceritanya. Untuk dapat menceritakan kembali dongeng yang sudah dipublikasikan, kamu harus benar-benar memahami isi dari kisah yang kamu pilih.

2. Mencatat Poin Penting
Langkah selanjutnya adalah mencatat poin-poin penting dari dongeng atau cerita. Catat alur, karakter masing-masing tokoh, latar belakang, sampai dengan waktu kejadian dalam cerita tersebut.

3. Pakai Gaya Bahasa Sendiri
Terakhir adalah mulai menulis. Gunakan gaya bahasamu sendiri, tidak perlu ikut-ikutan cara penulis lain dalam menuangkan isi kepalanya. Dengan demikian, meskipun dongeng atau ceritanya sama, akan ada sentuhan yang berbeda (khas) dari masing-masing penulis. Ini bisa kamu jumpai saat membaca/membandingkan dongeng populer yang di-rewrite (retelling) oleh beberapa penulis.

Demikian tips menulis kembali dongeng maupun cerita populer. Kamu hanya harus memiliki ketelitian dan tingkat kecermatan yang tinggi. Gunakan gaya bahasa sendiri, alih-alih mencontek cara penulis senior menuangkan kisah dongengnya. Selamat mencoba!


Postingan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community






You Might Also Like

1 komentar

Total Tayangan Halaman