Sebongkah Emas Dua Sahabat

23.08



Kim dan Pao adalah sahabat yang tidak terpisahkan. Mereka selalu bersama-sama dan saling menyayangi. Saat itu Negeri Cina telah memasuki awal musim semi. Suasana begitu hangat dan menyegarkan.

“Pao, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke hutan pinus hari ini?” Ajak Kim seraya tersenyum.

“Wah, ide bagus!” Pao setuju.

Mereka pun pergi sesuai rencana. Sepanjang perjalanan, keduanya bernyanyi riang. Sesekali melontarkan cerita-cerita lucu. Jalan tanah menuju hutan tidak terlampau lebar dan berliku.

Baru separuh perjalanan, keduanya memutuskan untuk istirahat. Tidak lama, mereka pun kembali menjelajahi hutan. Kim dan Pao menyeberangi sungai kecil yang jernih dan terus mengagumi indahnya pepohonan besar di sekeliling mereka. Keduanya semakin masuk ke dalam hutan. Tiba-tiba mereka melihat semak bunga yang cantik. Di balik semak tersebut, tampak sesuatu yang berkilau.  

“Wah, ada bongkahan emas!” pekik Pao.

Kim langsung menunduk dan mengambil emas sebesar buah lemon itu.

“Ini untukmu, Pao,” Kim menyodorkan benda berkilau tersebut ke hadapan sahabatnya.

“Tidak, untukmu saja, Kim. Kamu berhak mendapatkannya,” Pao berucap halus.

Mereka saling tolak untuk memiliki emas itu. Karena tidak ingin terjadi pertengkaran, keduanya pun meletakkan kembali bongkahan emas ke tempat semula. Tidak ada pikiran membagi dua bongkahan emas tersebut.

Suatu hari, Kim dan Pao berjalan-jalan ke kota. Mereka bertemu dengan seorang lelaki tua yang miskin. Ia tidak memiliki tempat tinggal dan tidur di jalanan tanah. Dua sahabat itu merasa iba, lalu menghampiri sang lelaki tua.

“Hai, Tuan, bangunlah! Kami ingin memberitahumu sebuah rahasia,” ucap Pao.

Lelaki itu bangkit perlahan, mengucek matanya. Tubuhnya tampak kurus dan kotor. Kemudian Kim dan Pao menjelaskan keberadaan bongkahan emas yang pernah mereka temukan di hutan.

Sontak wajah lelaki tua itu berbinar-binar. Bibirnya membentuk huruf U. Matanya membulat. Ia pun berterima kasih kepada dua sahabat itu, lalu pergi ke hutan dengan riang dan semangat.

Kim serta Pao asyik berbincang, menghabiskan satu jam bersama. Kicau burung bersahutan di dahan pohon taman kota. Tiba-tiba seseorang berteriak dan mendekati mereka.

“Kalian sengaja mempermainkan aku!” bentak lelaki  tua yang tadi baru dari hutan.

“Ada apa, Tuan? Apakah Anda sudah menemukan emasnya?” Pao kebingungan.

“Tidak! Aku justru berjumpa dengan monster ular dan bertarung dengannya. Beruntung dia bisa kukalahkan!” nada suara sang lelaki masih tinggi. Wajahnya merah padam karena marah.

“Itu tidak mungkin! Kami akan pergi ke sana dan membuktikan ucapanmu,” Kim masih tidak percaya. Ia pun mengajak Pao berangkat menuju hutan.

Keduanya melangkah cepat ke tempat bongkahan emas berada. Mereka berjalan berjingkat-jingkat tatkala mendekati semak bunga. Tetapi mereka tidak menemukan monster ular. Yang ada di hadapan keduanya adalah gumpalan emas yang dulu pernah mereka temukan. Namun, kali ini ada dua bongkahan dan ukurannya lebih besar.

Kim pun mengambil emas tersebut dan menyerahkan kepada Pao. Demikian pula sebaliknya. Pao menyodorkan emas satunya untuk sang sahabat. Mereka pulang dengan senyum merekah.

Note: retelling dongeng dari Cina

Postingan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community (Day 8)


You Might Also Like

0 komentar

Total Tayangan Halaman