Meski Tak Sesempurna Sosok di Relung Jiwa, Saya Sangat Bersyukur Memiliki Ibu Mertua

03.09

Sumber: pixabay.com


Sosok mertua dan menantu perempuan dalam layar kaca selalu digambarkan tak pernah akur. Entah itu karena sang ibu yang kecewa memiliki menantu yang tidak piawai melakukan pekerjaan rumah, menyesal dengan pilihan putranya akibat sang wanita yang tak kunjung mengandung, hingga masalah klasik seperti kasih sayang anak yang berat sebelah antara istri dan sang ibu.

Ketidakharmonisan hubungan mertua dan menantu pasti pernah terjadi dalam realita kehidupan. Akan tetapi tak selamanya apa yang tersaji di layar kaca sesuai kenyataan. Banyak juga hubungan mertua dengan menantu perempuan yang rukun kok. Saya mendapati beberapa postingan para sahabat di media sosial yang begitu akrab dengan ibu mertuanya. Duh, rasanya kok, iri, ya. Ada yang posting ibu mertuanya jago mengelola bisnis kuliner, bumer ciamik menulis buku, aktif di kajian Islam, sampai dengan doyan traveling. Hmm … bener-bener mertua idaman. Pikiran itu pernah terlintas di benak saya.

Akhirnya pada 2014 saya melepas masa lajang. Bayang-bayang sosok mertua idaman masih bergelayut dalam benak. Kala itu, saya belum terlalu mengenal sifat dan karakter ibu mertua karena suami saya orang luar Jawa. Hal ini menyebabkan pertemuan dengan bumer bisa dihitung dengan jemari. Alhamdulillah akhirnya setelah resmi menjadi istri, saya diberi kesempatan oleh Allah untuk mengenal beliau lebih dekat.

Singkat cerita, beberapa bulan belakangan saya tinggal serumah dengan ibu mertua. Lantas apa yang terjadi? Apakah beliau mertua idaman seperti yang ada dalam pikiran saya selama gadis hingga awal-awal berumah tangga? Big no. Sosok ibu mertua impian saya sangat berbeda dengan ibu mertua yang ada di hadapan saya kini.

Beliau orang yang suka keluar rumah, senang mengobrol dengan tetangga, mudah tersentuh, update fashion, dan ceplas-ceplos. Ibu rumah tangga biasa yang belum melek internet apalagi kenalan dengan Facebook. Kondisi ini membuat saya kesulitan mendeskripsikan pekerjaan saya sebagai penulis freelance kepada beliau.

Ibu mertua impianmu? Dulu yaa, ini dulu. Saya menginginkan seorang ibu mertua yang melek teknologi, sederhana, bisa jadi teman curhat saya dan tidak akan pernah membocorkan aib atau masalah yang sangat privasi.

Namun lama-kelamaan saya menyadari betapa kurang bersyukurnya saya. Menilai ibu mertua tidak sehebat mertua lainnya. Istighfar berkali-kali terucap. Saya berkaca

Jika saya menilai ibu mertua bukanlah mertua idaman, lantas saya sendiri bagaimana?

Apakah saya sosok menantu idaman?

Apakah saya orang yang sempurna?

Mungkin saja ibu mertua saya saat ini juga menyesal dengan mantunya. Menyesal dengan pilihan putranya hehehehe …. Ya, mantunya tidak terlalu pandai memasak, nggak hobi moles wajah, muka pas-pasan, masih suka emosian, dan yang jelas nggak asyik diajak jalan-jalan hehe …. Mantunya demen di rumah sambil ketak-ketik, pergi kalau pas penting banget. Itupun cuma bedakan, gaes. Lipen entah udah raib dimainin bocah, apalagi mascara wkwkwkwk *belum pernah pakek sendiri kalo yang inih.

Demikian pandangan saya terhadap bumer dulu. Kini, semakin mengenal beliau, saya pun kian menyadari bahwa ibu mertua yang berdiri di hadapan saya adalah sosok terbaik yang Allah kirimkan. Sosok ibu kedua yang bisa menerima kelebihan serta kekurangan saya. Tentu saja hubungan kami tidak selalu harmonis. Ada kalanya saya dan bumer tidak sejalan dan berselisih paham. Akan tetapi, kami tidak saling membenci. Perbendaan itu wajar. Sekarang saya katakan bahwa saya sangat bersyukur memiliki beliau.

Update: 28 Januari 2019

You Might Also Like

0 komentar

Total Tayangan Halaman