Sharing Wonderland Family Bareng Niken Sari : Tetap Produktif Menulis Bersama Empat Buah Hati

05.41

Sumber: grup facebook Wonderland Family


Jumat, 22 Maret 2019 lalu, Wonderland Family, salah satu komunitas menulis yang berfokus kepada bacaan anak-anak mengundang narasumber untuk sesi sharing gratis bagi para anggota. Kali ini yang mampir ke rumah Wonderland adalah seorang emak penulis dengan empat buah hati. Wow banget, ya! Meski punya bocil yang masih unyu-unyu, beliau tetap bisa produktif menulis. Namanya Mbak Niken Sari. Kebetulan sebelum mengadakan sharing di Wonderland Family, saya sudah mengenal beliau lebih dahulu. Pribadi yang hangat, humble, dan sangat care, membuat saya betah curcol dengan beliau. Uhukk ….

Niken Sari mulai aktif menulis dan mengikuti beragam training kepenulisan sejak tahun 2016. Berbekal pengalaman mengenyam pendidikan di luar negeri (Jerman), dia bertekad menulis sebuah buku traveling. Akhirnya pada tahun 2017 buku solonya lahir.  Journey in Berlin, adalah buku traveling pertama karya Niken Sari yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo (Gramedia Grup).

Setelah sesi perkenalan singkat, sharing yang dipandu oleh Walidah Ariyani tersebut langsung ulik asyik perjalanan menulis Niken Sari. Berikut adalah rangkuman sesi tanya jawab.

Jadi penasaran bagaimana perjuangannya untuk menerbitkan buku ini?

Menulis harus berdasarkan passion. Kebetulan traveling adalah passion saya yang pertama. Menulis tentang perjalanan tidak hanya bercerita secara umum, tapi juga hikmah yang terkandung di dalamnya.

Bagi saya menulis adalah sebuah kebahagiaan dan tantangan. Kenapa disebut sebuah kebahagiaan? Karena saya merasakan bahagia setiap kali mengungkapkan rasa lewat tulisan. Menulis juga bisa disebut sebagai sebuah tantangan, yaitu bagaimana kita menjadi seorang penulis yang lebih baik dari hari kemarin. Serta tak lupa tantangan menghadapi deadline hehehe ….

Berarti untuk menulis naskah traveling kita harus benar-benar memahami dulu tujuan dan hal bermanfaat yang bisa diambil dari perjalanan itu ya, Kak? Artinya nggak sekedar bercerita tentang keindahan gitu ya, Kak?

Saya mau cerita sedikit, ya, tentang naskah Journey in Berlin ini. Awalnya saya menulis naskah ini hingga 70 halaman dalam waktu satu bulan. Tetapi, sesuatu hal terjadi. Naskah saya hilang. Kebetulan saya selalu menulis dengan menggunakan hp. Tiba-tiba naskah itu hilang karena hp saya rusak. Sedih sekali rasanya. Waktu itu sempat putus asa juga dan bertanya dalam hati apakah naskah tersebut saya lanjutkan atau tidak. Saya pun memutuskan untuk lanjut apapun yang terjadi :-) sebab saya tidak mau setengah hati dalam mengerjakan sesuatu. Cuma ada dua pilihan, iya atau tidak.

Saya pun mulai menulis dari awal lagi. Sambil berdoa kepada Allah supaya dimudahkan dan dilancarkan prosesnya, akhirnya naskah saya bisa selesai. Kemudian saya kirimkan ke penerbit bulan September 2017 dan Alhamdulillah 2 minggu kemudian dapat pemberitahuan kalau naskah saya disetujui. Alhamdulillah.

Woow...70 halaman hilang. Artinya Kakak mulai dari awal lagi? Bagaimana meyakinkan mood yang patah hati karena naskah hilang, Kak?

Sebelum mengirim naskah tersebut tak lupa saya mohon doa kepada suami tercinta. Sebab, saya yakin untuk seorang istri dan juga ibu seperti saya, dukungan keluarga sangat berperan. Saya yakin restu suami akan memudahkan langkah selanjutnya.

Tak lupa saya mohon doa juga kepada ibu saya. Saya tahu bahwa doa-doa beliau selalu menyertai perjalanan hidup saya. Karena itu saya butuh sekali restu beliau dalam setiap langkah. Alhamdulillah akhirnya Desember 2017 saya mengalami 2 kali lahiran, lahiran anak ke-4 dan buku. Saya bahagia dengan kelahiran bayi perempuan saya dan juga buku Journey in Berlin. Akhirnya setelah itu saya aktif menulis dan buku yang belum lama saya tulis berjudul Aku Ingin Menjadi Hafiz. Buku Aku Ingin Menjadi Hafiz dibuat untuk memotivasi anak-anak agar menjadi penghafal Alquran sejak dini.

Noted Kak, betapa restu dan doa itu sangat penting untuk sebuah kesuksesan. Bagaimana mengatur time schedule antara menulis dan keluarga, Kak?

Dalam sesi tanya jawab terakhir juga ada pertanyaan dari Dian Nofitasari, Naimnabil Kembar, Susi Yusni Walti, dan Wahyuni Indriyani.

Dian Nofitasari : Aku ingin Menjadi Hafiz buku kumpulan cernak atau gimana, Mbak?

Naimnabil Kembar : Pengen nulis dengan tema tentang ini. Tetapi ide kok macet. Padahal cerita tentang anak sendiri. Semoga bisa dapat masukan nih.

Susi Yusni Walti : Tanya mbak Niken. Kalau kita mau menulis perjalanan kita, apa saja yang boleh kita tulis: Kesan ttg tempat yg kita kunjungi, atau deskripsi tempat yg kita kunjungi?

Wahyuni Indriyani : Hai, Mba Niken yang luar biasa. Dengan 4 anak dan tanpa khodimat. Bisa membagi waktu untuk keluarga dan juga konsisten menulis.
Mba Niken, apa saja do's and dont's dalam menulis buku travelling ?

Makasih Kak Walidah dan Kak Dian, untuk pertanyaannya ^^
1. Perjuangan untuk menerbitkan buku ini.
Perjuangannya lumayan panjang ya karena peristiwa naskah saya yang sempat hilang semua itu hehehe ….

2. Meyakinkan mood yang patah hati.
Jujur saja awalnya sedih sekali. Tapi, saya segera bangkit dan mencoba good mood kembali :-) Saya sudah terjun ke dunia kepenulisan dan tidak akan patah semangat hanya karena sesuatu hal. Tak lupa berdoa. Karena bagi saya dalam melakukan apa saja doa memiliki peranan utama.

3. Mengatur time schedule antara menulis dan keluarga. Awalnya memang saya agak kesulitan dengan pengaturan waktu. Namun, Alhamdulillah akhirnya bisa menemukan waktu yang tepat untuk menulis. Jadi, biar semuanya bisa balance antara kewajiban sebagai seorang ibu, istri dan juga penulis :-)
Time schedule saya seperti ini, karena saya punya empat anak maka pengaturan waktu harus benar-benar tertata rapi. Biasanya saya bangun sekitar pukul tiga dini hari untuk kegiatan domestik. Termasuk menyiapkan bekal dua anak yang sekolah (kelas 3 dan 1 SDIT), 1 batita dan 1 bayi. Saya punya prinsip mending kegiatan domestik dilakukan sejak dini hari hingga ketika pukul 08.00 WIB saya sudah bisa santai.

4. Buku Aku Ingin Menjadi Hafiz.
Buku Aku Ingin Menjadi Hafiz bukan kumpulan cernak. Buku ini adalah sebuah pictbook yang diperuntukkan bagi anak usia SD, namun juga bisa dibaca oleh anak-anak di bawah usia tersebut. Sebenarnya buku ini terinspirasi dari kisah anak pertama saya :-)

Terima kasih untuk pertanyaannya Mbak Naimnabil, Mbak Susi dan Mbak Wahyuni
1. Mau menulis tapi ide macet.
Coba sebelum nulis kita manjakan diri sendiri. Bisa makan sesuatu yang kita suka maupun jalan-jalan. Menulis berdasarkan pengalaman sendiri jauh lebih enak dibandingkan menulis sesuatu yang kita kurang pahami. Jadi, untuk saya sendiri biasanya lebih suka menulis berdasarkan hal-hal yang saya alami. Kuncinya cuma satu, menulis dan menulis. InsyaAllah ide akan bermunculan ketika kita terus menulis :-)

2. Untuk menulis kisah perjalanan apa saja yang mesti kita tulis. Kesan tentang tempat atau deskripsi.
Apa saja bisa kita tulis. Awalnya mungkin dengan deskripsi tempat. Misalnya kita mau menulis tentang Raja Ampat. Kita bisa menulis keindahan pulau-pulau yang ada, tidak lupa akomodasi maupun hal-hal lainnya. Nah, biasanya untuk bagian akhir baru kita tulis tentang kesan-kesan positif kita terhadap tempat tersebut. Kalau saya pribadi selalu menyisipkan cerita tentang makanan halal untuk daerah yang dikunjungi. Sebab, bagi saya kehalalan itu penting sekali :-)

3. Do dan Dont's dalam menulis buku traveling.
Do : hal-hal umum yang mau diceritakan mulai dari deskripsi tempat tersebut (sejarah, luas, dsb). Kemudian juga keindahan tempat tersebut, makanan dan minuman halal, dan yang paling utama adalah foto.
Dont's : Terkadang di sebuah tempat yang dikunjungi ada adat istiadat maupun hal lainnya yang tidak boleh diceritakan secara gamblang. Ini untuk traveling domestik. Sedangkan untuk wilayah mancanegara, maaf, ada beberapa taman atau tempat yang memiliki konotasi negatif yang tidak bisa kita ceritakan dalam buku. Itu menurut pendapat saya :-) Terima kasih untuk pertanyaannya :-)

Sharing malam itu kece banget. Pokoknya bikin malu kalau nggak nulis, banyak alasan untuk meninggalkan aktivitas menulis, atau patah hati dan ngambek karena naskah hilang maupun ditolak penerbit. Pelajaran yang saya ambil dari sesi sharing bersama Mbak Niken Sari adalah pantang menyerah serta tidak putus asa ketika terjadi peristiwa kurang menyenangkan pada naskah (ditolak atau hilang), terus mencoba dan pantang menyerah, meminta doa dari orang-orang terdekat (suami, anak, orang tua), sebelum kirim naskah jangan lupa untuk bismillah dan pasrahkan kepada Allah, semoga naskah kita bertemu dengan jodoh.

Mantuuullll! Jangan mau kalah dengan ibu produktif berbuntut empat inih. Yuk, nulis lagi!



You Might Also Like

0 komentar

Total Tayangan Halaman