Menjelajah Cagar Budaya Indonesia di Kebumen : Dari Kokohnya Benteng Van der Wijck Sampai Uniknya Makam Mbah Lancing, Makam Keramat Berselimut Kain Batik

10.54

Sumber gambar : dokumentasi pribadi (foto benteng tampak samping)


Kebumen yang dulu sama sekali tidak menarik bagi para wisatawan, kini mulai dilirik. Bukan hanya terkenal akan keindahan pantainya, Kebumen juga memiliki beragam benda dan bangunan cagar budaya yang merupakan bukti sejarah masa lampau. Kalau berbicara mengenai cagar budaya Indonesia yang ada di Kebumen, kebanyakan orang pasti akan langsung teringat pada Benteng Van der Wijck Gombong. Ya, benteng belanda ini sempat menjadi bahan perbincangan hangat dan menyedot banyak wisatawan setelah dipakai sebagai lokasi syuting film The Raid 2: Berandal.
Setelah pemugaran, Benteng Van der Wijck difungsikan sebagai tempat wisata sejarah. Keunikan bentuknya yang berupa segi delapan ditambah beberapa fasilitas seperti kolam renang, arena bermain anak, penginapan, serta pojok kuliner, menjadi bukti bahwa benteng yang dulunya adalah kantor kongsi dagang VOC di Gombong ini dikembangkan dengan baik. 

Sumber gambar : dokumentasi pribadi (foto di salah satu pintu masuk Benteng Van der Wijck)

Nostagia saja, ya. Benteng Van der Wijck Gombong atau dikenal juga dengan nama Fort Generaal Cochius dibangun pada 1844. Tujuan pembangunan benteng adalah sebagai wujud pertahanan sebelum terjadi perang melawan Kesultanan Yogyakarta. Ketinggian bangunan benteng mencapai 10 meter dengan luas permukaan 7.168 m2. Pada tahun 1856, Benteng Van der Wijck beralih fungsi menjadi pupillenschool (sekolah taruna militer) khusus bagi anak-anak Eropa yang lahir di Bumi Pertiwi. Di antara beberapa cagar budaya di Indonesia yang berbentuk benteng, Van der Wijck termasuk salah satu bangunan yang kondisinya masih sangat terjaga.

Sumber gambar : dokumentasi pribadi (foto di salah satu jendela Benteng Van der Wijck)

Bergeser dari Benteng Van der Wijck, rupanya Kebumen masih mempunyai beragam benda cagar budaya. Sayangnya, sebagian besar kondisinya memang kurang terawat. Nama-nama situs maupun benda cagar budaya tersebut tak populer bahkan terkesan wingit, sehingga tidak menjadi lokasi yang recommended untuk dikunjungi meskipun menyimpan fakta sejarah luar biasa. Sekarang siapkan diri untuk menjelajah beberapa cagar budaya Indonesia yang terdapat di Kebumen!

1. Batu Kalbut

Sumber gambar : situsbudaya.id

Situs Batu Kalbut berlokasi di Desa Ayah, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Kalau kita hendak berwisata ke Pantai Logending, kita akan melewatinya. Letaknya tepat di sisi kiri jalan tak jauh dari pintu gerbang wisata Pantai Logending.


Sumber gambar : situsbudaya.id

Di dalam kompleks situs ini terdapat tiga benda. Pertama berupa Lingga-Yoni yang menghadap ke arah selatan dan terletak paling depan. Benda yang kedua dan ketiga adalah batu berlubang yang diduga merupakan peti kubur batu. Benda-benda bukti sejarah masa lalu tersebut terbuat dari batuan andesit. Di antara ketiga benda di area Situs Batu Kalbut, salah satunya berukir kepala ular naga jawa. Kita pun dapat menyaksikan adanya sisa-sisa batuan lempeng di sana.

2. Makam Mbah Lancing

Sumber gambar : situsbudaya.id

Salah satu makam keramat yang terdapat di Kebumen ialah Makan Mbah Lancing. Terletak di Dukuh Kauman, Desa Mirit, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah, makam ini selalu ramai dikunjungi para peziarah setiap harinya. Mereka yang datang bukan hanya warga lokal, melainkan banyak juga yang dari luar Kebumen sepeti Yogyakarta, Purworejo, Cilacap, bahkan Sumatera.

Sebetulnya siapa Mbak Lancing? Beberapa sumber menyebutkan bahwa Mbah Lancing merupakan sosok ulama yang dianggap sebagai wali oleh masyarakat sebab telah berjasa dalam menyebarkan agama Islam di pesisir selatan Jawa. Selanjutnya, Mbah Lancing yang bernama asli Kyai Baji bersama dengan Kyai Marwi merintis sebuah pemukiman di Desa Mirit.

Saat kita berkunjung ke Makam Mbah Lancing, ada hal unik yang pastinya membuat hati bertanya-tanya. Makam yang berada di tempat terbuka tanpa atap tersebut diselimuti oleh tumpukan kain batik. Tenyata hal itu berkaitan dengan ritual dan kebiasaan Mbah Lancing semasa hidup. Konon beliau sangat senang menggunakan kain batik untuk bebedan atau lancingan. Hingga kemana pun beliau pergi senantiasa memakainya. Tumpukan kain batik yang ada di atas Makam Mbah Lancing dinamakan sinjang. Kain-kain tersebut berasal dari para peziarah sebagai bentuk rasa syukur karena doanya dikabulkan Allah Swt. Tak bisa sembarangan, peziarah wajib menemui juru kunci terlebih dahulu apabila hendak meletakkan sinjang di atas pusara sang ulama.

Sinjang yang ditaruh pun bukan sembarang kain batik. Tidak boleh kain yang dibeli di pasar melainkan harus dibuat khusus. Nantinya juru kunci akan menunjuk wanita dengan syarat tertentu untuk membatik sinjang. Batiknya harus bermotif contong dengan dominasi warna hitam-cokelat sesuai kesukaan Mbah Lancing.

3. Masjid Jami Saka Tunggal

Sumber gambar : situsbudaya.id

Berhenti sejenak membahas situs dan makam yang lumayan berbau mistis, kita beralih menengok salah satu bangunan tua dengan nilai sejarah tinggi. Apalagi kalau bukan Masjid Jami Saka Tunggal atau Soko Tunggal. Tempat ibadah yang didirikan pada 1722 ini berlokasi di Desa Pekuncen, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah.

Apabila biasanya masjid ditopang beberapa tiang penyangga, tidak demikian dengan Masjid Saka Tunggal. Ditopang oleh satu tiang utama berbentuk segi empat dengan ukuran 30x30 cm, saka tersebut mempunyai tinggi kurang lebih 4 meter dan terbuat dari kayu jati pilihan. Bagian ujung atas ada empat kayu melintang yang juga berfungsi sebagai penyangga.

Masjid yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya Indonesia ini mempunyai filosofi tersendiri. Saka tunggal merupakan perlambang keesaan Allah Swt. sebagai pencipta alam semesta. Satu tiang juga merupakan simbol bahwa hanya ada satu tuhan yang patut disembah yaitu Allah Swt. Masjid Saka Tunggal juga dimaknai sebagai lambang satu tujuan, satu tekad untuk mengusir penjajah dari tanah nusantara di masa lalu.

Banyak kisah tentang sejarah berdirinya Masjid Saka Tunggal ini. Sesepuh Desa Pekuncen menceritakan bahwa tempat ibadah tersebut didirikan untuk memperingati seribu hari wafatnya Adipati Mangkuprojo. Beliau meninggal pada 1719. Sang adipati  merupakan sosok yang gigih melawan penjajah serta giat melakukan syiar Islam, khususnya di wilayah setempat. Sumber lain mengatakan bahwa masjid ini dibangun oleh Adipati Mangkuprojo setelah pengikutnya bertambah. Beliau disebut-sebut sebagai keluarga Keraton Kartasura Solo yang pantang menyerah melawan penjajah Belanda.

Perusakan Cagar Budaya Indonesia di Wilayah Kebumen
Masih lekat dalam benak saya saat membaca berita perusakan sebuah cagar budaya berupa makam yang dikeramatkan oleh masyarakat sekitar. Hal yang membuat saya makin tertarik adalah karena cagar budaya itu ternyata berada di kawasan kampung halaman saya, Kebumen. Meski berakhir dengan kata damai, namun perbuatan lima orang peziarah tersebut sama sekali tidak patut dicontoh.

Berdasarkan cerita yang beredar kala itu, mereka yang mulanya menemui juru kunci makam dan mengutarakan niat untuk membersihkan pusara, ternyata malah memindahkan batu bata serta kain penutup makam. Sang juru kunci yang mengetahui hal tersebut lantas menegur. Bukan malah meminta maaf atau beritikad baik, salah satu peziarah justru marah dan mengancam akan membakar makam.

Kasus di atas dapat menjadi pelajaran bagi kita agar bisa menjaga sopan santun, tata krama, dan memperhatikan kelestarian cagar budaya. Bukan malah mengotori dengan bermacam sampah, melakukan aksi corat-coret, berfoto yang tidak pantas atau terlarang di area cagar budaya, hingga melakukan vandalisme.

Pernah tidak melihat coretan di dinding benteng atau candi saat berkunjung? Ini juga salah satu bentuk perusakan terhadap cagar budaya, ya. Ingat! Ada sanksi bagi yang merusak cagar budaya. Misalnya pada kasus yang menimpa dua terdakwa perusak gedung SMA ”17” 1 Yogyakarta beberapa waktu lalu. Mereka divonis denda Rp 500 juta rupiah atau dapat diganti dengan kurungan selama 12 bulan. Jadi, berhati-hatilah dalam bertindak!

Kiat Praktis Melestarikan Cagar Budaya


Menjaga serta melestarikan cagar budaya bukan hanya wajib dilakukan oleh pemerintah, akan tetapi juga merupakan tanggung jawab bersama. Hal ini dikarenakan cagar budaya adalah saksi bisu sejarah yang tak ternilai harganya. Maka, mari kita mulai dengan langkah-langkah sederhana demi menjaga kelestariannya.

1. Menyebarluaskan Informasi Cagar Budaya
Tidak semua cagar budaya tersorot mata kamera atau ramai diberitakan di dunia maya. Banyak cagar budaya yang namanya justru redup, sehingga tak ada yang tertarik mengunjunginya. Nah, kita dapat mengambil peran dalam melestarikan cagar budaya dengan cara menyebarkan informasi tentang cagar budaya yang belum banyak diekspos. Sebagai contoh, kita yang berkecimpung di dunia literasi, bisa membuat tulisan menarik mengenai ragam cagar budaya yang terdapat di daerah sendiri supaya lebih dikenal khalayak.

2. Menjaga Perilaku Ketika Berkunjung
Perhatikan aturan yang berlaku di lokasi cagar budaya yang dikunjungi. Contohnya saat berwisata ke cagar budaya Candi Borobudur. Di sana kita dilarang untuk memanjat stupa. Sudah sepatutnya kita mematuhinya. Apabila ingin berfoto, bisa mengambil background cantik lain tanpa harus melanggar aturan.

3. Menyulap Cagar Budaya
Cagar budaya yang notabene merupakan benda-benda peninggalan masa lalu yang bersejarah, dapat disulap agar bisa menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Salah satu contohnya adalah Benteng Van der Wijck yang kini sudah berubah wajah menjadi destinasi wisata sejarah tanpa kesan angker atau mistis. Sebaliknya, para pengunjung, termasuk anak-anak, malah senang berada di sana. Mereka bisa belajar sejarah sembari bermain.

4. Memberikan Perhatian Kepada Juru Pelihara
Juru kunci atau juru pelihara adalah orang yang mempunyai peran penting dalam menjaga cagar budaya. Sayangnya, sebagian pihak masih memandang sebelah mata tugas mulia mereka. Padahal pengabdian serta sumbang tenaga mereka sangat pantas dihargai. Bentuk apresiasi yang dapat diberikan, khususnya oleh pemerintah, dapat berupa upah yang layak atas tanggung jawab dan pengabdian para juru pelihara tersebut.

5. Mengenalkan Cagar Budaya Pada Generasi Muda
Generasi masa kini suka akan hal-hal berbau unik nan fotogenik. Tidak ada salahnya mengajak para milenial untuk melakukan program touring atau jelajah cagar budaya. Utamakan cagar budaya yang belum dikenal, ya. Nantinya peserta wajib mengunggah gambar yang diambil di lokasi cagar budaya ke media sosial masing-masing. Tentunya dengan caption yang mengedukasi pembaca terkait cagar budaya dalam foto.

Di Kebumen kebanyakan cagar budaya berbentuk makam atau situs, meski ada yang berupa bangunan juga. Selain yang telah ditetapkan, sebenarnya ada pula beberapa bangunan yang berpotensi ditetapkan menjadi cagar budaya misalnya, Roemah Martha Tilaar, SMP Negeri 2, SMA Negeri 1, SMP Negeri 1, dan stasiun kereta api yang semuanya berada di Gombong. Semoga kesadaran masyarakat menjaga cagar budaya khususnya di Kabupaten Kebumen semakin meningkat, sebab Kebumen keren. Orang keren, pasti sadar pelihara cagar budaya.



Referensi :
https://kebumen2013.com/benteng-van-der-wijck-fort-generaal-cochius-gombong-kebumen-dan-pelurusan-sejarahnya/
https://situsbudaya.id/situs-batu-kalbut-kecamatan-ayah-kebumen/
https://situsbudaya.id/makam-mbah-lancing-kebumen/
https://situsbudaya.id/masjid-soko-jami-tunggal-pekuncen/
https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-4469008/banyak-caleg-ke-makam-mbah-lancing-jika-menang-letakkan-selembar-batik
https://daerah.sindonews.com/read/1323727/29/menelisik-sejarah-masjid-saka-tunggal-di-kebumen-1532126482
https://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2018/07/26/sanksi-pidana-untuk-perusak-cagar-budaya-427877


Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi “Blog Cagar Budaya Indonesia:  Rawat atau Musnah!” yang diselenggarakan oleh Komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis bekerja sama dengan Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Yuk, ikutan! Info lengkap ke sini : https://indscriptcreative.com/kompetisi-blog-cagar-budaya-indonesia-rawat-atau-musnah/



You Might Also Like

0 komentar

Total Tayangan Halaman