Gambar tema oleh Igniel

About me


Dian Novandra. Ibu dari dua buah hati, Raisya Kayla Askanah dan Faris Ar-Rahman.
Content writer
Blogger pemula

Laporkan Penyalahgunaan

Broken Home Bukan Refleksi Masa Depan



Prangg! Suara pecahan guci keramik sontak hinggap di telinga. Sumpah serapah, caci maki, saling menyalahkan, bukan hal yang aneh baginya. Panggil saja ia Delima. Bisa dibilang itu makanannya setiap hari sewaktu kecil. Muak? Pasti. Namun ia telan bulat-bulat saja. Sayang, semua yang dialaminya di masa lalu, tak lantas bisa dilupakan.  

 

Anak yang terlahir dari keluarga tidak utuh cenderung menunjukkan perilaku negatif. Krisis percaya diri, tertutup, susah mengekspresikan perasaan, menyalahkan diri sendiri atas segala yang terjadi, over protektif, hingga depresi adalah beberapa contohnya. Bahkan penelitian di Britania Raya menyebutkan bahwa anak broken home berisiko lima kali lebih besar mengidap gangguan kejiwaan, penyimpangan perilaku, dan kelainan psikologis, dibandingkan mereka yang terlahir dari keluarga utuh.  

 

Hasil penelitian ini diamini oleh  masyarakat awam atas dasar fakta yang terjadi di lapangan. Sementara hasil studi lain yang dilakukan oleh para peneliti dari University of New Hampshire Cooperative Extension, memaparkan bahwa dampak perceraian orang tua terhadap masing-masing anak akan berbeda-beda tergantung kepribadian, umur, serta hubungan si anak dengan ayah dan ibunya.

 

Dampak Psikologis yang Terjadi Pada Anak Broken Home

Tidak dapat dimungkiri bahwa ketidakharmonisan rumah tangga orang tua akan memengaruhi kehidupan buah hati. Anggapan bahwa anak broken home adalah “produk rusak” dengan masa depan suram, menjadi label yang melekat kuat pada si kecil. Kemarahan dalam diri anak atas perpisahan orang tua, perasaan sendiri, takut, putus asa, dan tekanan, adalah hal utama yang dirasakan para anak broken home.

 

Jika dahulu orang-orang memandang sebelah mata dan menganggap anak broken home merupakan sampah masyarakat, kini hal itu tidak berlaku lagi. Terbukti ketika beberapa waktu lalu bergulir berita perpisahan salah satu pasangan selebriti kondang yang memiliki balita, netizen beramai-ramai mendukung dengan tagar #savegempi. Langkah ini membuktikan bahwa orang-orang sudah semakin memahami bagaimana kehidupan anak broken home, apa yang mereka butuhkan, dan tentu saja lebih mengerti cara memperlakukan anak-anak dari keluarga tidak utuh supaya bisa menjalani hidup yang bahagia layaknya orang “normal”.

 

Untuk bisa memahami perilaku dan kejiwaan anak broken home, ketahui dahulu beberapa dampak psikologis yang terjadi pada anak-anak dengan keluarga tidak utuh berikut ini :

 

1. Masalah Emosional

Luka hati tidak dapat disembuhkan dalam sekejap mata. Ungkapan tersebut benar adanya. Perasaan terluka akibat perpisahan orang tua mampu mempengaruhi emosi buah hati. Mereka akan cenderung menolak dan menunjukkan ketidaksukaan atas keputusan berpisah yang diambil ayah dan ibu. Beberapa anak dengan usia yang lebih besar pun umumnya menunjukkan secara terang-terangan rasa tidak suka dengan berteriak, melempar barang, hingga melakukan aksi nekat seperti bunuh diri.

 

2. Masalah Sosial

Tidak hanya problem emosional, masalah sosial juga mengintai buah hati dari keluarga kurang harmonis. Kebanyakan dari mereka kerap kesulitan dalam bersosialisasi, rendah diri, cemas berlebihan, hingga bertindak agresif dan menjadi pelaku perundungan kepada teman lain. Dampak yang lebih mengerikan adalah timbulnya perasaan tidak percaya terhadap suatu hubungan atau bersikap sinis, seperti  disebutkan dalam artikel berjudul “Parental Divorce and Adolescents  (Carl E Pickhardt Ph.D, 2009)

 

3. Hidup yang Mati

Anak-anak broken home tak lagi merasakan kehidupan menyenangkan, berenergi, dan bahagia seperti sebelum mereka dihadapkan pada masalah perpisahan orang tua. Mereka merasa hidup seolah mati. Tiada gairah hidup dan tak tahu harus melakukan apa ke depan. Di sinilah celah strategis bagi hal-hal negatif. Ketiadaan pilihan membuat mereka, terutama yang masih berjiwa labil memutuskan mengikuti ajakan atau seruan buruk yang menghampiri.

 

4. Masalah Pendidikan dan Perubahan Dalam Keluarga

Perceraian orang tua berdampak juga kepada pendidikan buah hati. Kenangan buruk yang terekam dalam memori, sangat mengganggu aktivitas belajar mereka. Alhasil nilai mata pelajaran anak pun turun drastis. Ditambah perubahan yang terjadi dalam keluarga, misalnya, semula segalanya dilakukan bersama ayah-ibu, kemudian kebiasaan tersebut menghilang. Seakan memulai hidup dari awal. Mau tak mau anak harus beradaptasi dengan posisi barunya. Sebagai anak tertua, mungkin juga “dipaksa” menggantikan peran ayah atau ibu yang tidak tinggal serumah lagi.

 

Broken Home = Trouble Maker?

Pembuat masalah, penyebab kekacauan. Kekerasan verbal seperti ini sering pula dialami pribadi broken home. Padahal broken home bukan trouble maker. Banyak sisi positif yang mereka tunjukkan, misalnya :

 

1. Semangat Mengubah Hidup

Mengalami hal yang menyedihkan, memicu sebagian anak broken home untuk mempunyai motivasi yang tinggi dalam membangun keluarga harmonis serta menggapai masa depan gemilang. Mereka ingin membuktikan, tak akan jatuh ke lubang yang sama seperti orang tua.

 

2. Lebih Kuat

Terbiasa dengan masalah dan tekanan, membentuk pribadi anak broken home lebih kuat, dewasa,  dan tangguh ketika menghadapi problem yang menghadang.

 

3. Kepedulian Tinggi

Alih-alih bersikap masa bodoh, sebagian anak broken home justru memiliki empati dan rasa kepedulian yang tinggi terhadap sesama. Mereka amat peka dengan segala masalah yang berkaitan dengan hubungan keluarga. Mereka mampu menjadi teman terbaik sekaligus pelindung kala sahabat atau orang terdekat mengalami problem di keluarga masing-masing.

 

Hidup Bahagia Sebagai Anak Broken Home

 

Menciptakan kehidupan bahagia untuk anak broken home bisa diwujudkan dengan langkah-langkah sederhana. Orang tua hanya perlu melakukan komunikasi yang efektif dan menyenangkan. Sesuaikan bahasa dengan kemampuan serta usia anak. Berikan pengertian kepada anak terkait penyebab perceraian. Hindari menutup-nutupi, bicaralah sejujurnya. Ingat bahwa anak juga memiliki hak untuk tahu apa sebenarnya yang tengah terjadi pada orang tua mereka. Dengan demikian buah hati bisa berpikir, bersikap, dan merespon lebih positif keputusan orang tua.

 

Selanjutnya tetap berikan kasih sayang kepada anak, meski orang tua tidak serumah lagi. Dukung anak melakukan kegiatan positif serta mengembangkan potensinya. Tidak ada salahnya juga memperkenalkan anak dengan komunitas hobi atau komunitas sosial misalnya yang beranggotakan anak-anak dari keluarga broken home. Di samping menambah pertemanan, kehadiran orang-orang “senasib” akan membuat anak nyaman, tidak merasa sendirian. Langkah ini membuat anak terhindar dari pikiran negatif atau terjerumus melakukan tindakan kurang terpuji. Jiwa yang sehat, melahirkan pikiran kreatif, produktif, serta cemerlang. Jadi, kata siapa anak broken home tidak berhak atas masa depan cerah? 


  

 


Dian Novandra
Hai, saya Dian Novandra. Ibu dari Raisya Kayla Askanah dan Faris Ar-Rahman. Senang menulis artikel dan cerita anak.

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email